LAMP, Metode Alternatif Diagnosis TBC yang Sederhana, Cepat, dan Akurat

Pengehambatan Virus Dengue Serotipe 2 pada Sel Ginjal Moyet Hijau Afrika
August 10, 2020
SEMINAR DARING MANAJEMEN LABORATORIUM SERIES-1: PENYIAPAN & IMPLEMENTASI ISO/IEC 17025:2017 SEBAGAI UPAYA MENJAGA MUTU DI LEMBAGA PENYAKIT TROPIS
September 5, 2020

LAMP, Metode Alternatif Diagnosis TBC yang Sederhana, Cepat, dan Akurat

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan global. Diperkirakan 10 juta orang terinfeksi TBC setiap tahunnya di seluruh dunia. Lebih dari 95% kematian akibat TBC terjadi di negara berkembang. Indonesia merupakan salah satu negara dengan masalah TBC terbanyak (high burden country) dan menduduki peringkat ketiga setelah India dan China. Diperkirakan terdapat 845.000 kasus TBC di Indonesia pada tahun 2018 dan 24.000 diantaranya merupakan kasus TB resisten obat. Penyebab utama tingginya kasus TBC adalah kemiskinan, kurang optimalnya program pengobatan TBC serta perubahan demografi akibat peningkatan jumlah penduduk. Di samping pengobatan, diagnosis TBC memiliki peran penting dalam mengatasi permasalahan ini. Secara sederhana, diagnosis TBC dapat dilakukan dengan melihat apusan dahak dengan menggunakan mikroskop. Namun metode ini memiliki banyak kendala dalam pelaksanaannya seperti kurangnya petugas terlatih dan subjektifitas hasil akhir yang sangat ditentukan oleh ketelitian dan keahlian si petugas laboratorium. Oleh karena itu, diperlukan metode lain yang lebih mudah pengerjaannya serta lebih cepat, sensitif, dan spesifik dalam diagnosis sehingga dapat menurunkan penularan dan kasus TBC.

The loop-mediated isothermal amplification (LAMP) merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk diagnosis TBC. LAMP menggunakan prinsip isotermal, pada suhu 64oC saja, untuk menjalankan reaksi pengkopian DNA tanpa memerlukan mesin thermal cycler seperti metode polimerisasi (PCR), LAMP hanya membutuhkan water bath atau heat block yang lebih sederhana sehingga dapat dipakai untuk standar diagnosis yang mudah dikerjakan di unit pelayanan kesehatan termasuk Puskesmas. Meskipun kultur bakteri merupakan  standar baku untuk diagnosis TBC yang direkomendasikan WHO, namun metode ini lambat dan mahal sehingga sulit untuk dijadikan alat diagnosis secara luas. Sedangkan LAMP memiliki kecepatan diagnosis layaknya mikroskop dengan kelebihan ketepatan diagnosis layaknya metode kultur bakteri.

Manakah yang lebih baik antara metode LAMP atau mikroskop dalam diagnosis TBC? Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode LAMP memiliki sensitivitas yang lebih baik daripada metode mikroskopis, hal tersebut juga didukung dengan hasil penelitian sebelumnya. Metode LAMP hanya membutuhkan suhu 64oC selama satu jam untuk menjalankan reaksi pengkopian DNA secara efektif dan efisien. Visualisasi hasil pun dapat dilakukan dengan mata telanjang karena perubahan warna dapat langsung dibandingkan antara hasil positif dan negatif. Penentuan hasil dengan metode mikroskopis memerlukan keterampilan khusus dalam mengamati jumlah bakteri  yang berhasil ditangkap dalam preparat, preparat apusan yang dibuat juga sangat menentukan hasil diagnosis, tidak semua bakteri yang terdapat dalam sampel dahak dapat tertangkap dalam preparat ukuran 2 cm x 3 cm yang biasa digunakan dalam metode mikroskopis, sehingga hasil akhir yang didapatkan cenderung subjektif.

Diagnosis yang tepat, cepat, dan akurat menjadi pintu awal kesuksesan dalam pengobatan penyakit akibat infeksi bakteri spesies Mycobacterium tuberculosis yang sampai sekarang masih menelan banyak korban. LAMP dapat menjadi alternatif baru dalam proses diagnosis TBC untuk mendukung tercapainya end TB program yang dicanangkan WHO terutama di negara-negara berkembang yang memiliki keterbatasan teknologi. Penggunaan LAMP yang sederhana tanpa memerlukan mesin khusus dapat dijadikan acuan dalam mengkonfirmasi hasil diagnosis TBC yang sama kualitasnya dengan metode PCR. Karena kesederhanaan dan keefektifannya, metode LAMP juga memungkinkan untuk digunakan dalam keadaan darurat di lapangan asalkan tetap mempertahankan standar keamanan dan keselamatan kerja.

Penulis: Ni Njoman Juliasih (ITD UNAIR)

Sumber Gambar : lampost.co.id
Link terkait tulisan di atas: http://medicopublication.com/index.php/ijfmt/article/view/10749

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com