Organisme utama dalam entomologi forensik meliputi serangga nekrofagus (pemakan bangkai) seperti lalat hijau (Calliphoridae), lalat daging (Sarcophagidae), dan kumbang kulit (Dermestidae) yang membantu menentukan Post-Mortem Interval (PMI) atau perkiraan waktu kematian. Serangga ini mendatangi jenazah dalam urutan suksesi ekologis tertentu.
Berikut adalah pengelompokan organisme penting dalam entomologi forensik:
Serangga Nekrofagus (Pemakan Bangkai):
-
- Lalat Hijau (Famili Calliphoridae): Biasanya yang pertama kali hinggap, meletakkan telur di lubang tubuh atau luka segera setelah kematian. Contoh spesies penting : Chrysomya megacephala, Lucilia sericata
-

- Lalat Daging (Famili Sarcophagidae): Datang setelah Calliphoridae dan meletakkan larva hidup.
- Kumbang Kulit (Famili Dermestidae): Muncul pada tahap pembusukan lanjut, memakan jaringan kering dan kulit. Contoh spesies: Nicrophorus vespilloides, Dermestes maculatus
- Predator dan Parasit:
- Kumbang histterid (Histeridae), kumbang rove (Staphylinidae), dan beberapa jenis tawon parasit yang memakan larva lalat nekrofagus.
- Omnivor :
- Semut, kecoa, dan tawon yang memakan jaringan tubuh mayat sekaligus serangga lain yang ada di jenazah.
Analisis fase perkembangan (larva, pupa, dewasa) dari serangga-serangga ini, terutama lalat dan kumbang, membantu dokter forensik memperkirakan waktu kematian dari hitungan hari hingga minggu.
*Omnivor : Omnivor dalam entomologi forensik adalah serangga yang memakan jaringan mayat sekaligus memangsa larva serangga lain (seperti lalat) yang ada di tubuh tersebut. Contoh utamanya adalah kumbang bangkai (Silphidae) dan beberapa jenis semut/tawon. Mereka berperan penting dalam menganalisis waktu kematian (PMI) karena kehadiran mereka mempengaruhi populasi necrophagous (pemakan bangkai).