ITD Unair Ungkap Potensi Tanaman Ini Jadi Obat Anti-HIV, Jenis Apa Ya?

OPEN HOUSE SECARA DARING PUSAT DIAGNOSTIK PENYAKIT TROPIS, LEMBAGA PENYAKIT TROPIS, UNIVERSITAS AIRLANGGA
May 24, 2021
“Dengue dan COVID-19” Beban Ganda bagi Sistem Kesehatan Indonesia
July 29, 2021

ITD Unair Ungkap Potensi Tanaman Ini Jadi Obat Anti-HIV, Jenis Apa Ya?

Peneliti HIV Institute Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga mengkaji potensi Zingiberaceae tanaman endemik Sulawesi Tengah jadi kandidat tanaman obat anti-HIV. Penelitian ini bekerjasama dengan peneliti Farmasi Bahan Alam Jurusan Farmasi Universitas Tadulako (UNTAD) Palu.

Kajian ini didasari fakta penggunaan obat yang dikenal dengan nama antiretroviral (ARV) untuk orang yang terinfeksi HIV atau mengidap AIDS. Obat ini memiliki efek samping jika digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Peneliti HIV-1/AIDS Institute of Tropical Disease (ITD) Siti Qamariyah Khairunisa mengatakan bahwa tim peneliti Universitas Tadulako berkontribusi dalam hal ekstraksi dan karakterisasi senyawa dari Zingiberaceae.

Sedangkan tim peneliti dari laboratorium HIV ITD UNAIR merupakan satu-satunya laboratorium yang ada di Indonesia yang memiliki isolat virus HIV sehingga berkontribusi dalam melakukan uji anti-HIV nya secara in-vitro.

Laboratorium HIV ITD UNAIR juga memberikan dukungan dalam memberikan sampel pasien HIV untuk dijadikan penelitian.

Zingiberaceae merupakan ramuan abadi yang banyak tumbuh di daerah subtropis dan iklim tropis di Asia dan Pasifik. Tanaman ini ditemukan di daerah Taman Nasional Lore Lindu (LLNP) Sulawesi Tengah.

Suku Topo Baria telah menggunakannya secara tradisional sebagai obat-obatan, penyedap rasa makanan, dan pembungkus makanan.

“Ada tiga spesies endemik tumbuhan Zingiberaceae di Sulawesi Tengah, yaitu Alpinia eremochlamys K. Schum, Etlingera fl exuosa A.D. Poulsen, dan Etlingera acanthoides A.D. Poulsen,” ujar Qamariyah dalam keterangan tertulis, Kamis (10/6/2021).

Pada penelitian tumbuhan Zingiberaceae ditemukan ekstrak metanol rimpang Alpinia galanga yang menunjukkan aktivitas penghambatan yang kuat pada replikasi virus HIV pada gen protease (PR).

19S-19Acetoxychavicol asetat yang diisolasi dari Alpinia galanga dilaporkan mampu memblokir transportasi pada gen Rev. (E) -Labda-8 (17), 12-diene-15,16-dial yang diisolasi dari Alpinia zerumbet memiliki kemampuan untuk menghambat replikasi virus HIV pada gen integrase.

“Zerumbone merupakan senyawa utama dari Zingiber zerumbet dan Zingiber aromaticum yang juga dilaporkan mampu menghambat replikasi virus HIV,” ujarnya.

Qamariyah juga mengungkapkan bahwa kandidat anti-HIV pada tanaman obat Zingiberaceae, Alpinia eremochlamys, Etlingera fl exuosa, dan Etlingera acanthoides dilakukan secara in-vitro di laboratorium HIV/AIDS di Lembaga Penyakit Tropis, Universitas Airlangga.

Pengujian ini menggunakan fasilitas laboratorium berstandar tinggi yaitu Biosafety laboratorium Level 3 (BSL3).

“Tahapannya meliputi ektraksi senyawa, karakterisasi senyawa, uji toksisitas dan uji aktivitas anti-HIV dengan menggunakan sel limfosit (sel T) dan virus HIV yang diisolasi dari pasien HIV tipe 1,” katanya

Berdasarkan hasil skrining anti virus yang dihasilkan, menunjukkan bahwa ekstrak etanol dari rimpang E. Acanthoides dan A. Eremochlamys berpotensi menghambat replikasi virus HIV-1 pada sel MT-4 secara in-vitro.

Rimpang E. Acanthoides menunjukkan aktivitas antivirus yang paling bagus dengan nilai IC50 dan tingkat toksisitas yang paling rendah, dan
selektivitas indeks tertinggi diantara kandidat anti HIV lainnya.

“Adanya kandungan senyawa terpenoid seperti zerumbone, ar-turmerone, caryophyllene, dan caryophyllene oxide serta beberapa asam lemak jenuh dan tak jenuh berpotensi sebagai aktivitas antivirus,” katanya.

 

Sumber Berita dan gambar : detik.com

Sumber Jurnal : www.sciencedirect.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com