Potensi Kulit Batang dan Bunga Pinus sebagai Kandidat Antivirus Dengue

“Dengue dan COVID-19” Beban Ganda bagi Sistem Kesehatan Indonesia
July 29, 2021

Potensi Kulit Batang dan Bunga Pinus sebagai Kandidat Antivirus Dengue

Virus dengue (DENV) adalah genus Flavivirus dari famili Flaviviridae. Virus ini adalah patogen terhadap manusia yang menyebabkan spektrum penyakit klinis yang luas mulai dari demam berdarah (DF) hingga demam berdarah dengue (DBD) parah dan sindrom syok dengue (DSS).

Di Indonesia, DBD pertama kali terjadi sebagai wabah di Jakarta dan Surabaya pada tahun 1968. Hingga saat ini, belum ada antivirus atau vaksin yang efektif untuk DBD. Selain Indonesia, negara ASEAN lainnya yang memiliki wabah DENV cukup besar adalah Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Saat ini, ada empat genotipe virus dengue; DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Tingkat penularan dan penyebaran sangat bervariasi di antara keempat serotipe dengue. Selain itu, Mustafa dkk. memimpin penemuan serotipe baru virus dengue, DENV-5. World Health Organization menyatakan bahwa virus dengue menyebar di kota-kota metropolitan terutama oleh dua spesies nyamuk, Aedes agypti dan Aedes albopictus.

Kondisi ini terjadi terutama di daerah tropis dan subtropis. Indonesia dinyatakan memiliki keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia, dengan sekitar 40.000 spesies tumbuhan endemik termasuk 6.000 tumbuhan obat. Untuk itu, bahan alam menjadi sumber bahan uji utama dalam pengembangan obat antivirus berbasis obat tradisional. P. merkusii atau pinus Sumatera adalah pinus asli daerah Malasia Asia Tenggara, terutama di Indonesia. P. merkusii termasuk dalam famili Pinaceae dan genus Pinus. Ini adalah salah satu spesies pohon kayu lunak tropis di Indonesia. Di Pulau Jawa, P. merkusii merupakan penghasil getah pinus. Namun, Indonesia merupakan produsen utama terpentin yang disuling dari resin ini.

Tanaman obat tradisional telah dilaporkan memiliki aktivitas antivirus dan beberapa telah digunakan untuk mengobati infeksi virus pada hewan dan manusia. Selain Pinaceae, beberapa anggota famili Acanthaceae, Amaranthaceae, Caricaceae, Cucurbitaceae, Elaeagnaceae, Euphorbiaceae, Fabaceae, Fagaceae, Flagellariaceae, Halymeniaceae, Labiatae, Meliaceae, Myrtaceae, Piperaceae, Phyllophoraceae, Poaceae, Rhizophoraceae, Verbeniaceae, Solieriuraceae, Zingiberaceae, dan Zosteraceae telah dilaporkan sebagai anti-dengue.

Banyak penelitian melaporkan bahwa khasiat obat P. merkusii disebabkan oleh fitokimia yang dimiliki, antara lain saponin, flavonoid, lignan, polifenol, triterpen, sterol, triterpenoid, glikosida, dan alkaloid. P. merkusii merupakan sumber penting pycnogenol yang mengandung proanthocyanidins (procyanidins). Proanthocyanidins adalah penangkal radikal bebas yang kuat, antibakteri, vasodilatasi, antikanker, antialergi, anti-inflamasi, kardioprotektif, merangsang sistem kekebalan, antidiabetes, dan anti-aterosklerosis.

Selain itu, proanthocyanidins adalah senyawa alami yang banyak ditemukan di tanaman Pinus. Proanthocyanidins hadir dalam bunga, kulit kayu, buah-buahan, dan biji berbagai tanaman sebagai pertahanan terhadap stres biotik dan abiotik. Secara kimia adalah produk oligomer dan polimer dari jalur biosintesis flavonoid. Flavonoid adalah kelas senyawa polifenol yang memiliki manfaat kesehatan manusia yang signifikan dan digambarkan sebagai kurang beracun dibandingkan dengan senyawa tanaman lainnya. Selain itu, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa flavonoid memberikan aktivitas antivirus yang signifikan terhadap sejumlah virus umum termasuk virus Aichi, virus dengue, virus distemper anjing, dan beberapa lainnya. Ada juga laporan penghambatan siklus replikasi virus oleh flavon, subkelompok flavonoid yang mencakup senyawa seperti baicalein.

P. merkusii adalah sumber obat tradisional yang baik dan memberikan dasar yang penting dalam biologi farmasi untuk pengembangan atau formulasi obat baru dan penggunaan klinis di masa depan untuk memerangi infeksi DENV. Selain itu, pembentukan produk anti dengue baru dari senyawa bioaktif diperlukan untuk menemukan obat anti dengue yang lebih efektif dan kurang toksik. Oleh karena itu, setiap penelitian yang komprehensif tentang potensi tanaman obat dengan senyawa aktif terisolasi yang telah menunjukkan aktivitas anti-dengue harus menjalani pengujian hewan in vitro dan in vivo tambahan yang diikuti dengan toksisitas dan uji klinis. Hal ini dapat mengakibatkan penemuan senyawa yang menjanjikan untuk dioptimalkan dan dengan demikian dianggap cocok untuk aplikasi dalam produksi senyawa anti-dengue baru. Dalam penelitian ini, kami mengungkapkan bahwa kulit batang dan bunga P. merkusii menghambat DENV-2 dalam sel Vero dengan IC50= 140,63 g/mL dan 73,78 g/mL, CC50= 89,65 g/mL dan 249,5 g/mL, SI= 0,64 dan 3.38, secara berututan.

Penulis: Teguh Hari Sucipto

Sumber : news.unair.ac.id

Sumber Gambar : Indizone

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com